
Penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di Indonesia masih rendah. Penelitian ilmuwan Simon Anholt yang tersaji dalam Good Country Index menunjukkan Indonesia peringkat ketiga terbawah dari 161 negara dalam Iptek.
"Ini fakta indikasi penggunaan Iptek di Indonesia masih belum dibutuhkan. Paradigma kolaborasi seharusnya dapat menggantikan paradigma bersaing karena kita hidup dalam globalisasi," ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnaen saat relaunching program Global Village di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (20/6).
Tak hanya Iptek, dalam bidang budaya juga rendah, berada di peringkat 131 dari 161 negara. Planet and climate peringkat 138. Dia menyebut peringkat terbaik Indonesia hanya dalam bidang militer yaitu International Peace Security yang bertengger di peringkat 19 dunia.
"Itu karena Indonesia sering mengirim tim perdamaian ke daerah-daerah konflik," tuturnya. "Bidang lain masih tertinggal jauh dari negara-negara berkembang lainnya, bahkan sesama anggota ASEAN."
Terkait Global Village, Iskandar menyebut program ini mengusung tema "Ilmu Sosial dan Kemanusiaan Menjawab Tantangan Global: Penguatan Masyarakat dan Negara Melalui Riset Frontier." Riset frontierm, kata, penelitian yang memiliki potensi untuk memberikan kontribusi penemuan teori, paradigma, perspektif atau metodelogi baru yang bisa membantu memecahkan masalah sosial, budaya, dan kemanusiaan dalam jangka panjang.
Ia memaparkan alasan adanya relaunching. Indonesia, kata dia, masih memiliki governance system atau tata kelola pemerintahan yang rendah. Itu terjadi lantaran adanya ketidaksiapan teknologi. Global Village diharapkan dapat mendongkrak pengetahuan masyarakat dalam hal teknologi sebab pengetahuan teknologi juga berpengaruh terhadap kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
sumber : http://www.harnas.co/2016/06/21/penggunaan-iptek-di-indonesia-rendah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar