Senin, 18 September 2017

Penggunaan Teknologi di Sepakbola Indonesia: Akankah Terwujud?

Meski masih kusut, sepakbola Indonesia sejatinya bisa mulai menerapkan penggunaan teknologi yang masif untuk meningkatkan kualitasnya.
Mari kita bayangkan sejenak. Saat salah satu pertandingan Liga 1 Indonesia sedang asik-asiknya bergulir antara Persib Bandung melawan Perseru Serui misalnya, kemudian kehebohan terjadi.
Tendangan LD… ah, maksud kami tendangan jarak jauh dari Michael Essien yang mengarah langsung ke gawang lawan jatuh tepat 15 centimeter dari garis gawang bagian dalam kemudian memantul kembali ke bagian luar gawang. Tendangan tersebut pun dianggap bukan gol oleh wasit.
image: https://video.unrulymedia.com/native/in-art-close-icon-128x128.png
–– ADVERTISEMENT ––
image: https://video.unrulymedia.com/native/opt-out-icon2.png
Essien pun meradang. Ia seperti tak terlihat sebagai pemain yang sudah makan asam garam kompetisi sepakbola top di Eropa. Ia berlari mengejar-ngejar sang wasit yang berbadan lebih kecil darinya dan berusaha menarik kerah baju sang wasit. Kericuhan terjadi dan seisi tribun meneriaki “wasit go****” berulang-ulang.

Bagaimana, sudah terbayang? Santai saja, ini baru pengandaian dari kami saja…
Pengandaian tersebut sejatinya adalah pemandangan yang lumrah dan kerap terjadi di Indonesia. Bahkan tak hanya di Indonesia, protes keras karena gol-nya tak dianggap pun pernah terjadi di liga sekelas La Liga Spanyol (meski tak ada adegan menarik kerah baju wasit).
Alasannya sama; (sebagian besar dari) mereka dan kita sama-sama belum memasang teknologi garis gawang seperti Hawk Eye ataupun Video Assistant Referees (VARs) di pertandingan liga.
Teknologi garis gawang dalam sepakbola seperti Hawk Eye ataupun VARs memanglah baru populer serta mulai digunakan dalam beberapa tahun terakhir. Itu baru teknologi untuk memudahkan kinerja wasit. Sebetulnya masih banyak teknologi dalam sepakbola yang mulai digunakan dalam sepakbola terutama di Eropa.

Sepatu serta bola yang dipakai para pemain, kini sudah mulai disisipi teknologi mikro. Kemudian ada rompi khusus yang dipakai di balik kostum pemain saat bertanding di lapangan untuk mendeteksi kinerja pemain tersebut. Belum lagi ada teknologi google glass yang bisa membantu staf pelatih hingga teknologi panoramic camera dan drone camera yang bisa dipakai untuk menganalisis jalannya pertandingan.
Penggunaan teknologi ini nantinya akan menghasilkan output berupa data-data primer (bisa juga berbentuk statistik) dari pemain yang perlu diketahui dari staf pelatih, sehingga segala menu latihan hingga menu makanan pun mampu diatur dengan sedemikian rupa, menyesuaikan kebutuhan. Sepakbola di Eropa sudah jauh melompat menyamai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemapanan klub-klub top di Eropa di berbagai hal seperti fasilitas dan finansial sangat memungkinkan mereka menghadirkan pelbagai perangkat teknologi tersebut. Iri dengan mereka, ya boleh saja, namun kita juga tak boleh terus-terusan terbelakang dan harus terus berkembang.

 
Agak rumit memang mengaitkan teknologi dengan sepakbola lokal kita. Masalahnya, kebutuhan primer seperti ketersediaan lapangan latihan ataupun tempat bertanding resmi saja klub-klub Indonesia masih kesulitan. Sama sulitnya dengan menyebutkan klub mana yang mempunyai stadion sendiri saat ini.
Bahkan jika harus diungkap lagi, kita juga kerap kesulitan untuk mencari arsip berita pertandingan dan pemain dari laman resmi dari sebagian besar klub di Indonesia. Ini era teknologi informasi, lho. Tahun 2017, lho. Bagaimana bisa hal-hal remeh temeh seperti arsip berita saja, kita masih sulit mengaksesnya?
Itu baru arsip berita pertandingan dan pemain. Lebih rumit lagi jika menanyakan arsip statistik tiap pemain. Kita jangan bicara tentang berapa key pass yang dilakukan oleh Firman Utina pada tahun 2014 lalu, misalnya. Bahkan untuk mencari data total assist dari Firman Utina sepanjang kariernya saja, kita masih kesulitan.
Kami cukup bersyukur karena laman resmi kompetisi ISC A tahun lalu, menyajikan statistik-statistik dasar (seperti total gol, total assist, sampai total tembakan) yang cukup jelas. Itu pun, sepengetahuan kami, pengumpulan data tiap pertandingannya masih dicatat secara manual sebelum akhirnya di arsipkan memakai MS. Excel atau aplikasi sejenisnya. Masih jauh dari kata canggih, namun setidaknya sudah ada upaya.
Seiring dengan bangkitnya kembali gairah persepakbolaan nasional dengan akan digulirkannya lagi kompetisi resmi dalam beberapa waktu ke depan, seharusnya ini menjadi momentum dari klub-klub lokal Indonesia untuk melek akan teknologi sepakbola.

 
Jika penafsiran teknologi dalam sepakbola itu selalu berada dalam lingkup teknologi garis gawang atau VARs misalnya, ya hal tersebut (teknologi) akan selalu terlihat mahal dan terlampau muluk-muluk. Toh, papan pergantian pemain dan seisi perangkat di stadion saja masih seadanya, kok. Bagaimana dengan instalasi teknologi garis gawang dan VARs? Tentu saja lebih mahal.

Maksud kami, klub-klub Indonesia mulailah berbenah teknologi dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu (tentu saja setelah membereskan urusan legalitas dan gaji pemain, misalnya). Teknologi sepakbola toh tak sesempit VARs dan Hawk Eye saja. Pemanfaatan web resmi klub sebagai arsip berita dan statistik pemain juga salah satu yang harus dikembangkan. Apalagi transaksi merchandise secara online sedang menjamur dimana-mana. Untuk siapa keuntungannya? Ya untuk klub itu sendiri.
Jika klub tersebut sudah cukup mampu atau mapan untuk membawa teknologi tingkat lanjut ke dalam sepakbola, maka itu akan lebih baik lagi. Bali United dan Persib Bandung, kabarnya merupakan sedikit dari banyak klub di Indonesia yang telah menggunakan teknologi rompi GPS khusus untuk mengukur kinerja dari pemainnya.
"Kami ingin mengetahui secara detail keadaan fisik dan stamina pemain. Kami juga bisa melakukan evaluasi mengenai pergerakan pemain di lapangan dengan menggunakan alat tersebut," ujar sang pelatih, Peter Schaller, seperti dilansir laman resmi Bali United beberapa waktu yang lalu.
Tentu ini adalah langkah yang luar biasa bagi klub-klub di Indonesia. Mengintegrasikan teknologi dan sepakbola memanglah bukan hal yang mudah dan murah. Klub-klub lain sudah seharusnya mencontoh pergerakan yang dilakukan oleh Bali United dan Persib ini.
Urusan memajukan sepakbola Indonesia ini memang harus banyak yang ikut andil. Kita tak harus melulu menuntut PSSI untuk berbenah. Semua elemen, seperti klub-klub di kompetisi teratas hingga kompetisi Liga Nusantara mestinya ikut berbenah. Jangan lupa, suporternya juga harus ikut berhijrah. Menanggalkan tindakan-tindakan ala kaum barbar mungkin langkah pertama bagi para suporter lokal kita.
Jika pada awal artikel ini kita berandai-andai seorang Michael Essien ‘mengamuk’ karena keputusan wasit yang menganulir golnya, maka izinkan kami menutup artikel ini dengan khayalan lainnya.
Pasca kesuksesan Essien di jagat sepakbola Indonesia, para pemain top dunia lain (meski yang sudah tua, sih) mulai berminat untuk bermain di negeri eksotis dengan sejuta kepulauan ini. Kondisi keuangan klub-klub sudah mulai membaik, bahkan beberapa dari mereka mulai membeli stadion yang kerap dijadikan kandang bermain mereka serta mempercantiknya.
Teknologinya pun tak kalah maju. Selain media informasi yang kerap diakses oleh masyarakat internasional, klub-klub Indonesia kini sudah mulai banyak yang mengintegrasikan teknologi sebagai acuan penampilan pemain di lapangan. Belum lagi para analis sepakbola Indonesia kini sudah lihai dengan teknologi rekaman kamera canggih. Segalanya sudah terkomputerisasi.
Partisipasi klub-klubnya sudah di level Liga Champions Asia, bahkan Indonesia menjadi penantang serius dalam perebutan tahta tertinggi antar negara-negara di Asia selevel dengan Jepang dan Australia. Selanjutnya, nama Indonesia mulai disegani sepakbolanya oleh para rival-rivalnya dalam percaturan sepak bola benua A….h kami lupa ini hanya berkhayal. Jangan dibawa terlalu serius, ya.

https://www.fourfourtwo.com/id/features/penggunaan-teknologi-di-sepakbola-indonesia-akankah-terwujud?page=0%2C1


 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS WEB BLOG

1. SebutkanDefinisi       a. PengertianSistem  1a. Ludwig Von Bartalanfy Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat d...